Selasa, 14 Februari 2012

drama picisan

Aku tak bisa meraba
Begitu tak terasa datangnya
Hanya sebentar
Hingga ku tak menyadari akan kepergiannya
Mengapa ini semu?
Bagaikan sebuah drama pecisan
Yang penuh dengan kepalsuan dan bualan semata

Tumbuh, lalu mekar di hati
Wanginya menyebar hingga di jendela kalbu
Namun, mengapa berduri?
Duri yang membunuh untai harapan

Penahkluk cinta bermain rasa
Bagai bermain layang-layang
Diterbangkan menembus awan
Lalu di jatuhkan saat bosannya datang

2 komentar:

  1. Elegi :) Puisi ini merefleksikan jeritan yang pedih kala cinta telah tumbuh dihati :) Bagus, salam kenal balik yah, aku juga sering nulis sastra diblogku, kita saling follow aja biar seru :D Aku follow blog ini yah :)

    BalasHapus
  2. ok doi,..yah ntar aku follow blog mu??? ngmeng2 yg follow km byk jg yah..

    BalasHapus