Sabtu, 30 November 2013

Bukan Aku

Aku bukan kiasan
Sajak kusam tak bertuan
Aku bukan pernyataan
Alasan untuk sebuah kutipan
Aku bukan pengabaian
Diam, menunggu tanpa kepastian
Aku bukan pujaan
Mengaku tunduk terpaku pada rayuan

Senin, 08 April 2013

Rindu ku

Lalala.....
Hatiku bernyanyi sendu
Nanana.....
Laraku berteriak pilu
Lalala......
Rindu ini menyiksaku

Rabu, 06 Februari 2013

Makalah Hukum Hooke


KATA PENGANTAR
                Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya maka saya bisa menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat waktu. Makalah ini berjudul “Hukum Hooke “ sebagai salah satu tugas akhir mata pelajaran Fisika semester  I kelas XI IPA 5. Saya menyadari, bahwa pembuatan makalah ini masih kurang dari kata sempurna dan tidak lepas dari kekurangan atau kelemahan.
          Dari segi isi, data ,maupun analisisnya. Olehkarena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat saya harapkan sebagai bahan pertimbangan dan perbaikan dalam penulisan makalah selanjutnya. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan atau dorongan Bu Uchi  sebagai guru mata pelajarn Fisika dan orang tua saya.
          Akhirnya saya berharap makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembaca dan dapat menambah wawasan tentang perkembangan teknologi yang tak lepas dari Fisika sebagai mata pelajaran ilmu pengetahuan.


Sidoarjo, 29 November 2012


Penulis


Selasa, 29 Januari 2013

Mentari Akan Terbit #chapter 1


Bisakah ku bermimpi tentang hari esok ? dan Apa yang ku dapat hari ini ?Akankah sama seperti kemarin ? Bagaimana dengan yang dulu ? Bisakah sama indahnya ?
Mentari mulai terbit. Terlewati waktu hanya dengannya. Seakan mengingatkan tentang janji dua bocah kecil di masa lalu. Walau hanya sebuah tulisan bukan sebuah kiasan. Berharap semoga abadi.
“ Jingga, kita di takdirkan untuk dipertemukan bukan untuk dipisahkan,” hanya sepenggal kalimat, yang mungkin bermakna.
“ Jangan kau ragu. Ada aku disampingmu !!” Jingga mencoba menyakinkan Mentari.
  “ Tahukah kau Mentari, tangan ini punya Tuhan. Yang ia titipkan kepada ku, kan ku gunakan untuk menjaga mu,” tutur Jingga kepada sang Mentari sembari melempar senyum dari bibir yang merah merekah.
Sang Mentari hanya tertunduk diam, dan sedikit membisu. Namun, tak dapat terpungkiri hatinya berbisik lirih. “ Jingga itu bagaikan nyawaku Tuhan. Jingga itu duniaku Tuhan. Kau ciptakan ia untuk menemaniku, agar aku tak pernah kesepian. ” Tatapan yang awalnya kosong, mulai berganti hujan kesedihan.
Jingga menatap wajah Mentari, dengan kelembutan nada bicara ia bertanya “ Mengapa kau menangis Mentari ? Siapa yang membuat hatimu terluka ? Katakan saja pada ku.” sambil ia sodorkan bahunya. “ Ini bahuku Mentari, tempat biasanya kau bersandar apabila kau lelah.”
“ Mungkin selama ini dihidup ku hanya ada dirimu, Jingga. Tanpa ada seorang pun mengusik semuanya. Tapi….jika suatu saat kehendak Tuhan berkata lain, bagaimana aku tanpa mu ?” pertanyaan yang terlontar dari mulut Mentari sambil menghapus air matanya.
“ Hei….mengapa dirimu ragu dengan Tuhan, Mentari ? Bukankah selama ini dia cinta dengan mu ? Tanpa Nya, mungkin kita tak ada bukan ?”