Selasa, 29 Januari 2013

Mentari Akan Terbit #chapter 1


Bisakah ku bermimpi tentang hari esok ? dan Apa yang ku dapat hari ini ?Akankah sama seperti kemarin ? Bagaimana dengan yang dulu ? Bisakah sama indahnya ?
Mentari mulai terbit. Terlewati waktu hanya dengannya. Seakan mengingatkan tentang janji dua bocah kecil di masa lalu. Walau hanya sebuah tulisan bukan sebuah kiasan. Berharap semoga abadi.
“ Jingga, kita di takdirkan untuk dipertemukan bukan untuk dipisahkan,” hanya sepenggal kalimat, yang mungkin bermakna.
“ Jangan kau ragu. Ada aku disampingmu !!” Jingga mencoba menyakinkan Mentari.
  “ Tahukah kau Mentari, tangan ini punya Tuhan. Yang ia titipkan kepada ku, kan ku gunakan untuk menjaga mu,” tutur Jingga kepada sang Mentari sembari melempar senyum dari bibir yang merah merekah.
Sang Mentari hanya tertunduk diam, dan sedikit membisu. Namun, tak dapat terpungkiri hatinya berbisik lirih. “ Jingga itu bagaikan nyawaku Tuhan. Jingga itu duniaku Tuhan. Kau ciptakan ia untuk menemaniku, agar aku tak pernah kesepian. ” Tatapan yang awalnya kosong, mulai berganti hujan kesedihan.
Jingga menatap wajah Mentari, dengan kelembutan nada bicara ia bertanya “ Mengapa kau menangis Mentari ? Siapa yang membuat hatimu terluka ? Katakan saja pada ku.” sambil ia sodorkan bahunya. “ Ini bahuku Mentari, tempat biasanya kau bersandar apabila kau lelah.”
“ Mungkin selama ini dihidup ku hanya ada dirimu, Jingga. Tanpa ada seorang pun mengusik semuanya. Tapi….jika suatu saat kehendak Tuhan berkata lain, bagaimana aku tanpa mu ?” pertanyaan yang terlontar dari mulut Mentari sambil menghapus air matanya.
“ Hei….mengapa dirimu ragu dengan Tuhan, Mentari ? Bukankah selama ini dia cinta dengan mu ? Tanpa Nya, mungkin kita tak ada bukan ?”
“ Iyaa. Kau memang benar. Tapi coba kau lihat kertas dan pulpen ini, Jingga ? Apabila tak ada pulpen, dengan apa kita akan menulis semuanya ? Sebaliknya, jika tak ada kertas dimana harus kita tulis semua yang kita rasakan hari ini ? Bukankah kertas dan pulpen ini saling melengkapi dengan kekurangan mereka ? Walau mereka hanya sekedar benda mati yang tak memiliki perasaan seperti manusia. Begitu pula dengan manusia bukan, Jingga ?”
“ Aku tahu maksud pembicaraan mu, Mentari. Dari dulu hingga saat ini pun aku percaya, kita terlahir untuk saling melengkapi. Untuk saling menyayangi dan saling menjaga. Dan dipertemukan untuk menjadi sahabat abadi.”
“ Nah, itu kau tahu Jingga. Jadi, aku tak salah kan bila takut kehilangan mu ?”
            Jingga lalu memeluk sahabatnya erat dan berkata “ Kau tak salah, Mentari. Kau juga tak akan pernah kehilangan diriku. Aku selalu ada di hatimu. ”
            Wajah yang awalnya basah karna air mata, mulai berganti menjadi cerah. Meski, sedikit mendung Mentari mencoba menyembunyikan dibalik senyumnya. Ia hanya tahu, ketakutan tentang mimpi buruknya semalam. Bukan karna hantu di film horor yang mampir sebentar di mimpinya atau mungkin masalah percintaan yang membuat remaja sekarang mengenal kata "GALAU". Semuanya salah ! Kekawatirannya hanya untuk orang tua dan Jingga, sahabatnya sejak kecil.


Karya Octaviasari Purnama Dewi

2 komentar: