Senin, 13 Februari 2012

Api yang tak kunjung padam


Berawal dari saling jatuh cinta, lalu memulai untuk menjalin hubungan, di tutup oleh sebuah janji suci di depan penghulu, dan di saksikan oleh Allah. Hidup bahagia dengan pasangan yang di cintainya. Itu  mungkin mimpi setiap remaja bebas, tumbuh menjadi manusia yang dewasa.
Begitupun dengan sepasang kekasih yang memutuskan menikah 12 tahun yang lalu. Setahun menikah, ternyata mereka belum beruntung.Allah tak kunjung mengirimkan malaikat kecil yang hadir di tengah-tengah pernikahan mereka. Kesabaranlah yang membuat mereka yakin, suatu hari nanti Allah kan kirimkan malaikat kecil pelengkap kebahagian mereka.
Kesabaran mereka jalani dengan ikhlas, berpikir ini adalah ujian untuk mereka.
“ Sabar ya istriku, cobaan ini pasti bisa kita lewati, “ sang suami berusaha menenangkan istrinya yang menangis, hanyut dalam doa.
***
            Setahun pun berlalu, kini menginjak 2 tahun pernikahan mereka. Namun Allah masih sayang dengan mereka. Sang istripun akhirnya hamil. Betapa bahagianya pasangan ini.
            Sembilan bulan lamanya, sang istri mengandung buah cinta yang telah lama mereka nantikan.Kini waktunya malaikat kecil itu terlahir di dunia.
“ Oeeeekkkkk ,“suara tangisan bayi terdengar dari kamar bersalin, sementara dari bilik pintu sejak tadi suasana tegang menunggu kehadiran malaikat kecil penyejuk hati.
Suster pun keluar dari kamar bersalin, “ Ibu dan bayinya selamat .”
“Alhamdulillah,” semua orang yang menunggu proses persalinan dari bilik pintu menghela nafas lega.
Tak lama dokter pun keluar
“ Kalau boleh saya tahu, yang mana suami dari IBU INDRIANI ?”
“ Saya, dok ”
“ Bisakah saya berbicara dengan anda, sebentar di ruangan saya ? ”
“ Ya, dok ”
Dokter dan sang suami pun bergegas ke ruangan dokter yang hanya beberapa langkah dari kamar bersalin
“ Silahkan duduk, pak !”
“ Ya, dok. Ada hal apa yang mau dokter bicarakan dengan saya?,” tanya sang suami dengan rasa penasaran di hatinya
“ Dengan rasa berat hati saya harus mengatakannya, anak anda tidak bisa melihat.”
“ Maksud dokter ?”
“Ya, anak anda mengalami kebutaan yang permanen. Saya harap anda dan istri anda tabah, ini hanya ujian dari tuhan”
Sang suami pun terdiam, mulutnya terkunci tak bisa berkata-kata. Sekejap kebahagian itu berubah menjadi kesedihan yang terus bergejolak di dalam hatinya.
“Cobaan apa lagi ini? Mengapa harus kau uji lagi kesabaranku ya Allah? Belum cukupkah kesabaranku selama ini? Kenapa harus malaikat kecilku? Kenapa bukan diriku saja yang banyak dosa kepada mu?,” pertanyaan terus menerus hinggap di otaknya .
Segera sang suami memberitahu kepada istrinya dan semua keluarga. Awalnya mereka tak belum bisa menerima kenyataan yang ada.Namun, lambat laun mereka semua bisa menerima keadaan yang ada. Dan menganggap sebagai cobaan dari Allah.
***
Lima tahun pun berlalu, malaikat kecil yang di beri nama Haqi Iskandar kini waktunya masuk sekolah . Awalnya orang tua Haqi, menyekolahkannya di sekolah layaknya anak normal lainnya sesuai permintaan Haqi. Tetapi lambat laun Haqi agak tertekan oleh ledekan dari teman-temannya. Namun, dia tidak terlalu menghiraukan  ledekan teman-temannya. Dia hadapi dengan senyuman.
“ Haqi, kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?,” wajah sedih Bunda menatap mata Haqi.
“ Aku gak kenapa-kenapa Bunda.Bunda tenang aja ya,” ciuman manja mampir di pipi sang Bunda.
Senyuman dari malaikat kecilnya itu, sedikit membuat Bunda tersenyum lagi.Sang Bunda tak mau melihat malaikat kecilnya Haqi, sedih melihatnya menangis.
***
Haqi yang mempunyai kekurangan tetapi tidak pernah berkecil hati.Walau banyak orang di luar sana yang mencemooh dia. Haqi tetap menjadi malaikat kecil Bunda dan Ayahnya. Malaikat kecil yang membuat orang sekitarnya bahagia, tersenyum ceria, dan melupakan masalahnya sejenak setelah melihat segaris tawa dari bibir mungilnya.
Sikap Haqi yang manja, periang membuat sang Bunda tegar menghadapi cobaan.
“Bunda harus tegar.Bunda harus kuat. Ini hanya cobaan dari Allah.Haqi yakin Allah sayang sama kita, makanya dia memberikan kita cobaan.Kita pasti bisa melewati cobaan ini sama-sama Bunda, Ayah,” kata- kata itu yang selalu Haqi katakana kepada Ayah dan Bundanya sebelum dia tertidur.
            Namun air mata sang Bunda tak bisa tertahan. Seakan gerimis yang turun membasahi pipi Bunda. Air mata itu mengalir begitu saja.
 “ Ya Allah kasiahani Bunda dan Ayah hamba.Kasihan Bunda dan Ayah yang selalu di pandang sebelah mata oleh orang lain karna kekurangan ku ini. Berikan mereka kekuatan ya, Allah. Alvin sayang mereka ya, Allah.” Haqi khusuk dalam doa di sholatnya.
***
Dengan kekurangan yang dimilikinya, ternyata Haqi punya bakat terpendam. Dia anak yang memiliki imajinasi tinggi. Dia pandai menulis puisi. Hampir setiap malam ia tuangkan isi hatinya ke dalam puisi.Puisi yang tentunya terinspirasi dari sang Bunda.
            Suatu saat, sobat karibnya Hadi datang menemuinya. Hadi sahabat kecilnya itu  berbeda dengan Haqi. Dia anak normal tanpa mempunyai kecacatan fisik sedikit pun. Tetapi, seperti fisiknya yang tidak cacat begitupun dengan hatinya. Sementara anak normal yang lain menjauhi Haqi karna kekurangannya, Hadi justru datang menawarkan untuk menjadi temannya. Haqi yang terharu melihat kebaikan dari Hadi, dengan senang hati menerimanya menjadi sahabat.
            Bagi Hadi, Haqi memang cacat fisik tetapi hatinya tidak cacat. Haqi punya hati seperti malaikat.Dia selalu memaafkan semua manusia yang merasa sempurna, mengejek kekurangannya.
***
Selembar kertas putih tergeletak di meja belajarnya Alvin, dengan coretan-coretan di atasnya.Bait demi bait Hadi membaca coretan itu dengan seksama. Sepenggal bait di bacanya, tetapi coretan itu membuatnya larut dalam suasana. Sangking keasikan membaca, Hadi tidak menyadari kehadiran Haqi di sampingnya.
“ Masyallah, kamu ngagetin aku aja Qi,” dengan wajahnya yang terkaget-kaget.
“ Kamu baca apa sih, kok gak menyadari kehadiranku??”
“Aku lagi baca puisi, yang di atas meja belajar mu. Ini karangan siapa sih?Kok bagus banget, sampai aku ikut terhanyut.”
“Ohh, itu puisi karanganku. Sebenernya itu bukan puisi, baru coret-coret aja kok.”
“Apa? Ini karangan mu?”
“ Ya, karanganku.”
“ Kayak gini kok di bilang coretan sih?,bagus banget.Kamu bisa nulis pakai huruf abjat?”
“Bisa dong, emang kamu aja. Bunda yang ngajarin aku dari kecil.”
“Ohh. Kenapa kamu gak pernah cerita, kamu bakat nulis puisi?”
“ Masa sih aku bisa nulis puisi? Beneran kok itu hanya coretanku aja.”
“ Ahh kamu tak usahlah merendahkan diri, kayak gini di bilang coretan.”
“ Yah kamu gak percaya, masih ada tuh coretan-coretanku di laci. Aku emang suka menuangkan isi hatiku kedalam tulisan kalau mau tidur.”
“Ohh gitu, kapan-kapan kamu harus bikinin puisi buat aku.”
“Kalau buat kamu ada di laci.”
“Yang bener kamu?Asikkkk…akhirnya ada orang yang bisa bikin puisi terinspirasi dari aku”
“Yeeee…jangan GR dulu, itu terinspirasi dari persahabatan kita bukan kamu.”
“Biarin aja GR.Kenapa gak kamu ikutin lomba aja?Kan coretanmu itu bagus banget”
“Hehehe biasa aja kali bilang coretan.Lomba apa sih?”
“ Lomba di majalah.Jadi kamu ngirimin salah satu puisi terbaikmu ke sebuah majalah.Aku kemarin baca majalah, lagi ngadain lomba mengarang puisi dan cerpen.Kalau menang hadiahnya lumayan lho, dapet duit bisa buat di tabung.”
“Kamu udah pernah ikut lomba itu?”
“Aku? hahahaha….aku sering banget ikut”
“Menang??”
“ Heehehe,..gak lah.Pernah menang tapi dulu,itupun di Jawa Pos”
“Hahahahah….lucu kamu”
“ Hmm..puas-puasin deh ketawa. Walau aku gak menang, tapi aku yakin kok kalau karya mu pasti menang.Soalnya bagus gila.”
“ Yakin kamu?”
“Yakin dong, udah dengerin kata-kataku deh.”
“Ya deh, aku ikut lomba itu.”
Pembicaraan mereka berakhir.Bunda memanggil mereka untuk makan siang.
***  
Tanpa memberitahu sang Bunda dan Ayah, Alvin mengikutkan puisinya yang berjudul    “ KETEGUHAN HATI ” ke lomba MENULIS PUISI DALAM  IMAJINASIMU disalah satu majalah.Dengan di bantu Hadi sahabatnya, Haqi mengitu lomba tersebut. Harap-harap cemas ia menunggu pengumuman itu. Setiap saat ia berdoa agar puisinya menang. Hadi sobatnya tak tinggal diam melihat sahabatnya gelisah, dia selalu memberi nasehat kepada Haqi agar selalu optimis.
Setelah satu bulan lamanya Haqi menunggu pengumuman lomba MENULIS PUISI DALAM IMAJINASIKU, kini terbitlah majalah yang memuat edisi nama-nama pemenang. Dengan sabarnya Haqi menunggu Hadi kerumahnya. Tak lama Hadi datang menghampirinya yang sedang gundah.
“Qi..Haqi kamu dimana?Aku punya kabar bagus,” teriaknya sambil mencari dimana Haqi berada.
“Ada apa sih Had,kenapa kamu teriak-teriak?” bunda kebingungan dengan sikap Hadi.
“Haqi dimana Bun?”
“Ada tuh di halaman belakang, emang ada apa sih?”
Tanpa sempat menjawab pertanyaan Bunda, Hadi pun bergegas menghampiri Haqi .Dari halaman belakang,Alvin sangat jelas mendengar teriakan sobatnya itu.
“ Vin, akhirnya aku nemuin kamu,” dengan nafas yang terengah-engah.
“ Tenang dulu, sabar. Hadi kamu duduk dulu, baru nanti jelasin pelan-pelan. “
“Ya ya ya, aku bagi minum mu ya? Aku haus habis lari-lari.”
“ Hahahaha kamu sih lari-lari kok di rumahku.”
“Bukan.Aku tadi lari dari tempat abang-abangnya yang jual majalah. Mungkin aku dikiranya orang gila kali.Habis ngasih duit langsung lari terbirit-birit ke rumahmu. Demi kasih kabar bgus nih ke kamu.Sampai aku lupa, dari tempat yang jual majalah ke rumahmu sekitar 3km.Tapi gak apa-apalah buat bikin sobat ku ini bahagia.”
“ Hehehe makasih ya sobat ku. Terus kamu bawa kabar bagus apa nih,buat aku?”
“ Ohh ya, hampir aku lupa. Kamu tahu gak,puisimu itu menang juara satu lagi.Mengalahkan seribu orang yanglain.”
“ Ahh masa? Kamu pasti cuma mau nyenengin hati aku aja kan? Lagian yang ikut lomba itu kan seluruh Indonesia.Masa punya ku juara satu.Mustahil banget deh.”
“Yeeee di bilangin kok gak percaya,kapan sih aku pernah bohongin kamu? Jelas-jelas disini tertulis HAQI ISKANDAR sebagai juara satu.”
“ Had, kamu serius? Alhamdulillah, makasih ya Allah kau kabulkan doaku.”
“ Hmmt..hadiahnya nanti dikirim lewat kantor pos. Sobat Selamat yah, puisi mu menang.Benenr kan kata ku, puisimu itu bagus pasti menang.Hehehe…tapi jangan lupa yah traktir aku. Ya makan bakso lah di warung depan.”
“ Hahaha…ah kamu makanan mulu di pikiran mu.Ya kawan, makasih ya suportnya selama ini. Nanti aku traktir deh sepuas mu.”
“Sumpah? Asekkk….”
***
Saat sedang asik mendengarkan music, tiba-tiba kepala Haqi pusing sekali. Tapi dia tidak menhiraukannya.Dia anggap hanya sakit kepala biasa, paling karna kecapekan. Memang sejak kecil kalau Haqi kecapekkan, dia suka pusing terkadang sampai muntah. Tetapi, namanya juga Haqi. Dia tidak pernah menghiraukan penyakitnya.
             Namun,keadaannya semakin menurun.Dia jadi semakin sering mengalami sakit kepala disertai mula hingga muntah.Terkadang dia jadi susah berbicara, pendengarannya njuga mengalami gangguan. Haqi pun akhirnya tidak tinggal diam lagi. Dia beranikan diri untuk memeriksakan kondisinya ke dokter tanpa sepengetahuan Bundanya.
Sore itu, Haqi nekat pergi kerumah sakit saat Bunda dan Ayahnya keluar kota.Dengan diantar sopirnya, sampailah dia di rumah sakit. Masuklah dia ke ruangan dokter, dengan sedikit rasa tegang di hatinya.Dokter pun memeriksa keadaan Haqi.Setelah stengah jam menunggu, dokter pun memberitahu hasilnya.”Dok, bagaimana hasilnya?Saya sehat-sehat saja kan?,” tanya Haqi dengan rasa penasaran.”
“Orang tuamu dimana anak muda?Saya harus bicarakan juga tentang penyakitmu kepada mereka.”
“ Orang tua saya sedang keluar kota dok.Mungkin minggu depan baru pulang.Memangnya saya sakit apa?Katakan pada saya dok?”
“ Sebenarnya saya berat mengatakan ini.”
“Katakanlah dok, saya siap mendengarnya.”
“Hmmm…kamu mengidap kanker otak stadium akhir. Umur mu sudah tak lama lagi anak muda. Namun, saya hanya sekedar manusia bukan tuhan. Saya memfonis umurmu sesuai ilmu kedokteran.”
“Apa kanker otak dok?,” Haqi terkaget-kaget mendengarnya.
“ Tak usah bersedih anak muda, tidak ada yang tak mungkin di mata Tuhan.Banyak-banyaklah berdoa.” Menepuk pundak Haqi.
Haqi tertunduk dalam keheningan. Dia tinggalkan ruang dokter dengan perasaan sedih.Dia tak tahu harus berbuat apa.Dia tak sanggup member tahu sang Bunda. Haqi tak mau membuat sang Bunda bersedih. Selama ini dia sudah merepotkan sang Bunda, dengan keadaannya.
***
            Sebulan,dua bulan berlalu, Haqi masih kekeh merahasiakan penyakitnya.Tak ada seorang pun tahu penyakitnya, termasuk sobat karibnya Hadi. Seperti biasa ia, ia tuliskan keluh kesah tentang penyakitnya ke dalam tulisan. Bertumpuk-tumpuk kertas di dalam laci. Bertuliskan syair-syair puisi untuk sang Bunda, Ayah dan Hadi.
Suatu hari,Bunda mengajaknya ke pesta pernikahan temannya. Saat pesta berlangsung, sakit kepala Haqi kumat lagi, fatalnya dia lupa membawa obat penahan rasa sakit dari dokter.
“ Kamu kenapa sayang?” tanya sang Bunda.Sebelum sempat menjawab pertanyaan sang Bunda, Haqi langsung pingsan.Bunda dan semua orang di pesta yang cemas tidar piker panjang, langsung membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Haqi langsung dibawa ke UGD.Lima belas menit kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.
“Dok,bagaimana kondisi anak saya?” tanya sang ayah.
“Tak ada harapan lagi pak, kondisi anak anda semakin memburuk. Sekarang Haqi koma.”
“ Koma dok? Memangnya anak saya sakit apa? Selama ini dia sehat-sehat saja,” Tambah sang Bunda.
“ Lho, memangnya Haqi belum mengatakan penyakitnya kepada anda? Dia mengidap kanker otak stadium akhir. Dua bulan yang lalu, saya sebenarnya ingin membicarakan hal ini, tapi kata Haqi anda sedang di luar kota.”
“ Astafirullah kanker otak? Cobaan apa lagi ini ya Allah?”
“ Tabahkan hati anda. Saya sarankan, jangan terlihat sedih di depan Haqi. Dia butuh doa dari ke dua orang tuanya.Baiklah, saya permisi dulu. Haqi sudah bisa di jenguk.”
Mendengar berita dari dokter, hati orang tua Haqi seakan teriris.Betapa tak teganya mereka, melihat Haqi terbaring lemas dengan di bantu selang-selang sebagai alat bantu pernafasan.Kedua orang tua dan Hadi sahabatnya, tak henti-henti berdoa buat kesembuhan Haqi.
***
Tiga hari koma di rumah sakit, keadaan Haqi semakin memburuk saja. Dokter yang awalnya optimis Haqi akan siuman, kini angkat tangan. Dia menyarankan agar orang tua Haqi siap menerima apapun yang terjadi.
 Entah mengapa, Haqi jadi kejang-kejang. Dokter yang sigap, langsung memeriksa kondisi Haqi. Dua puluh menit kemudian, dokter pun keluar dari ruang rawat inap. Dengan harap-harap cemas Ayah dan Bunda menunggu kabar dari dokter. “Maaf saya tidak bisa menyelamatkan nyawa anak anda.Ini sudah menjadi takdir tuhan.” Mendengar kata-kata dokter, pecahlah tangis itu. Di depannya Bunda menangis, melihat jasad sang anak terbujur kaku dengan di tutupi sehelai kain putih.Di atasnya ada sepucuk surat.Lalu Bunda perlahan-lahan membacanya.
Bunda ku sayang, mungkin saat Bunda membaca surat ini aku telah pergi jauh di sisi Allah. Pergi ke surga, tempat yang selama ini aku ingin kunjungi. Jangan bersedih Bunda. Aku tak mau melihat Bunda menangis lagi. Jasad ku memang mati, tapi kenangan tentang ku akan selalu berada di hati mu Bunda.Jaga kesehatan baik-baik Bunda. Aku sayang Bunda, Ayah dan Hadi. Semoga kita bisa bertemu kembali di surganya. Ohh ya lupa aku titip salam buat Hadi. Dulu, sekarang dan selamanya dia akan menjadi sahabt sejatiku.
Anak cacat bukan produk gagal karna tuhan tidak menciptakan tidak pernah gagal. Anak cacat tidak butuh dikasihani, tetapi diberi kesempatan untuk menginspirasi orang lain.

Haqi menghembuskan nafas terakhirnya pada usia ke 17. Dia pergi dengan senyum dan kebahagian. Banyak pelajaran yang dia berikan untuk Ayah, Bunda dan sahabatnya. Dia memang meninggal di usia yang masih muda, namun dia mampu membuktikan dengan kekurangannya dia dapat menorehkan prestasi.


-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar