Berawal
dari saling jatuh cinta, lalu memulai untuk menjalin hubungan, di tutup oleh
sebuah janji suci di depan penghulu, dan di saksikan oleh Allah. Hidup bahagia
dengan pasangan yang di cintainya. Itu mungkin mimpi setiap remaja bebas, tumbuh menjadi
manusia yang dewasa.
Begitupun
dengan sepasang kekasih yang memutuskan menikah 12 tahun yang lalu. Setahun menikah, ternyata
mereka belum beruntung.Allah tak kunjung mengirimkan malaikat kecil yang hadir
di tengah-tengah pernikahan mereka. Kesabaranlah yang membuat mereka yakin,
suatu hari nanti Allah kan kirimkan malaikat kecil pelengkap kebahagian mereka.
Kesabaran
mereka jalani dengan ikhlas, berpikir ini adalah ujian untuk mereka.
“ Sabar ya istriku, cobaan ini pasti bisa
kita lewati, “ sang suami berusaha menenangkan istrinya yang menangis, hanyut
dalam doa.
***
Setahun
pun berlalu, kini menginjak 2 tahun pernikahan mereka. Namun Allah masih sayang
dengan mereka. Sang istripun akhirnya hamil. Betapa bahagianya pasangan ini.
Sembilan
bulan lamanya, sang istri mengandung buah cinta yang telah lama mereka
nantikan.Kini waktunya malaikat kecil itu terlahir di dunia.
“ Oeeeekkkkk ,“suara tangisan bayi
terdengar dari kamar bersalin, sementara dari bilik pintu sejak tadi suasana
tegang menunggu kehadiran malaikat kecil penyejuk hati.
Suster pun keluar dari kamar bersalin, “
Ibu dan bayinya selamat .”
“Alhamdulillah,” semua orang yang
menunggu proses persalinan dari bilik pintu menghela nafas lega.
Tak lama dokter pun keluar
“ Kalau boleh saya tahu, yang mana suami
dari IBU INDRIANI ?”
“ Saya, dok ”
“ Bisakah saya berbicara dengan anda,
sebentar di ruangan saya ? ”
“ Ya, dok ”
Dokter dan sang suami pun bergegas ke
ruangan dokter yang hanya beberapa langkah dari kamar bersalin
“ Silahkan duduk, pak !”
“ Ya, dok. Ada hal apa yang mau dokter
bicarakan dengan saya?,” tanya sang suami dengan rasa penasaran di hatinya
“ Dengan rasa berat hati saya harus
mengatakannya, anak anda tidak bisa melihat.”
“ Maksud dokter ?”
“Ya, anak anda mengalami kebutaan yang
permanen. Saya harap anda dan istri anda tabah, ini hanya ujian dari tuhan”
Sang suami pun terdiam, mulutnya
terkunci tak bisa berkata-kata. Sekejap kebahagian itu berubah menjadi
kesedihan yang terus bergejolak di dalam hatinya.
“Cobaan apa lagi ini? Mengapa harus kau
uji lagi kesabaranku ya Allah? Belum cukupkah kesabaranku selama ini? Kenapa
harus malaikat kecilku? Kenapa bukan diriku saja yang banyak dosa kepada mu?,”
pertanyaan terus menerus hinggap di otaknya .
Segera sang suami memberitahu kepada
istrinya dan semua keluarga. Awalnya mereka tak belum bisa menerima kenyataan
yang ada.Namun, lambat laun mereka semua bisa menerima keadaan yang ada. Dan
menganggap sebagai cobaan dari Allah.
***
Lima
tahun pun berlalu, malaikat kecil yang di beri nama Haqi Iskandar kini
waktunya masuk sekolah . Awalnya orang tua Haqi, menyekolahkannya di sekolah
layaknya anak normal lainnya sesuai permintaan Haqi. Tetapi lambat laun Haqi agak
tertekan oleh ledekan dari teman-temannya. Namun, dia tidak terlalu
menghiraukan ledekan teman-temannya. Dia
hadapi dengan senyuman.
“ Haqi, kamu gak kenapa-kenapa kan
sayang?,” wajah sedih Bunda menatap mata Haqi.
“ Aku gak kenapa-kenapa Bunda.Bunda
tenang aja ya,” ciuman manja mampir di pipi sang Bunda.
Senyuman dari malaikat kecilnya itu,
sedikit membuat Bunda tersenyum lagi.Sang Bunda tak mau melihat malaikat
kecilnya Haqi, sedih melihatnya menangis.
***
Haqi
yang mempunyai kekurangan tetapi tidak pernah berkecil hati.Walau banyak orang
di luar sana yang mencemooh dia. Haqi tetap menjadi malaikat kecil Bunda dan
Ayahnya. Malaikat kecil yang membuat orang sekitarnya bahagia, tersenyum ceria,
dan melupakan masalahnya sejenak setelah melihat segaris tawa dari bibir mungilnya.
Sikap Haqi yang manja, periang membuat
sang Bunda tegar menghadapi cobaan.
“Bunda harus tegar.Bunda harus kuat. Ini
hanya cobaan dari Allah.Haqi yakin Allah sayang sama kita, makanya dia
memberikan kita cobaan.Kita pasti bisa melewati cobaan ini sama-sama Bunda, Ayah,”
kata- kata itu yang selalu Haqi katakana kepada Ayah dan Bundanya sebelum dia
tertidur.
Namun
air mata sang Bunda tak bisa tertahan. Seakan gerimis yang turun membasahi pipi
Bunda. Air mata itu mengalir begitu saja.
“
Ya Allah kasiahani Bunda dan Ayah hamba.Kasihan Bunda dan Ayah yang selalu di
pandang sebelah mata oleh orang lain karna kekurangan ku ini. Berikan mereka
kekuatan ya, Allah. Alvin sayang mereka ya, Allah.” Haqi khusuk dalam doa di
sholatnya.
***
Dengan
kekurangan yang dimilikinya, ternyata Haqi punya bakat terpendam. Dia anak yang
memiliki imajinasi tinggi. Dia pandai menulis puisi. Hampir setiap malam ia
tuangkan isi hatinya ke dalam puisi.Puisi yang tentunya terinspirasi dari sang
Bunda.
Suatu
saat, sobat karibnya Hadi datang menemuinya. Hadi sahabat kecilnya itu berbeda dengan Haqi. Dia anak normal tanpa
mempunyai kecacatan fisik sedikit pun. Tetapi, seperti fisiknya yang tidak
cacat begitupun dengan hatinya. Sementara anak normal yang lain menjauhi Haqi karna
kekurangannya, Hadi justru datang menawarkan untuk menjadi temannya. Haqi yang
terharu melihat kebaikan dari Hadi, dengan senang hati menerimanya menjadi
sahabat.
Bagi
Hadi, Haqi memang cacat fisik tetapi hatinya tidak cacat. Haqi punya hati
seperti malaikat.Dia selalu memaafkan semua manusia yang merasa sempurna,
mengejek kekurangannya.
***
Selembar
kertas putih tergeletak di meja belajarnya Alvin, dengan coretan-coretan di
atasnya.Bait demi bait Hadi membaca coretan itu dengan seksama. Sepenggal bait
di bacanya, tetapi coretan itu membuatnya larut dalam suasana. Sangking
keasikan membaca, Hadi tidak menyadari kehadiran Haqi di sampingnya.
“ Masyallah, kamu ngagetin aku aja Qi,”
dengan wajahnya yang terkaget-kaget.
“ Kamu baca apa sih, kok gak menyadari
kehadiranku??”
“Aku lagi baca puisi, yang di atas meja
belajar mu. Ini karangan siapa sih?Kok bagus banget, sampai aku ikut
terhanyut.”
“Ohh, itu puisi karanganku. Sebenernya
itu bukan puisi, baru coret-coret aja kok.”
“Apa? Ini karangan mu?”
“ Ya, karanganku.”
“ Kayak gini kok di bilang coretan
sih?,bagus banget.Kamu bisa nulis pakai huruf abjat?”
“Bisa dong, emang kamu aja. Bunda yang
ngajarin aku dari kecil.”
“Ohh. Kenapa kamu gak pernah cerita,
kamu bakat nulis puisi?”
“ Masa sih aku bisa nulis puisi? Beneran
kok itu hanya coretanku aja.”
“ Ahh kamu tak usahlah merendahkan diri,
kayak gini di bilang coretan.”
“ Yah kamu gak percaya, masih ada tuh
coretan-coretanku di laci. Aku emang suka menuangkan isi hatiku kedalam tulisan
kalau mau tidur.”
“Ohh gitu, kapan-kapan kamu harus
bikinin puisi buat aku.”
“Kalau buat kamu ada di laci.”
“Yang bener kamu?Asikkkk…akhirnya ada
orang yang bisa bikin puisi terinspirasi dari aku”
“Yeeee…jangan GR dulu, itu terinspirasi
dari persahabatan kita bukan kamu.”
“Biarin aja GR.Kenapa gak kamu ikutin
lomba aja?Kan coretanmu itu bagus
banget”
“Hehehe biasa aja kali bilang
coretan.Lomba apa sih?”
“ Lomba di majalah.Jadi kamu ngirimin
salah satu puisi terbaikmu ke sebuah majalah.Aku kemarin baca majalah, lagi
ngadain lomba mengarang puisi dan cerpen.Kalau menang hadiahnya lumayan lho,
dapet duit bisa buat di tabung.”
“Kamu udah pernah ikut lomba itu?”
“Aku? hahahaha….aku sering banget ikut”
“Menang??”
“ Heehehe,..gak lah.Pernah menang tapi
dulu,itupun di Jawa Pos”
“Hahahahah….lucu kamu”
“ Hmm..puas-puasin deh ketawa. Walau aku
gak menang, tapi aku yakin kok kalau karya mu pasti menang.Soalnya bagus gila.”
“ Yakin kamu?”
“Yakin dong, udah dengerin kata-kataku
deh.”
“Ya deh, aku ikut lomba itu.”
Pembicaraan mereka berakhir.Bunda
memanggil mereka untuk makan siang.
***
Tanpa
memberitahu sang Bunda dan Ayah, Alvin mengikutkan puisinya yang berjudul “ KETEGUHAN HATI ” ke lomba MENULIS PUISI DALAM IMAJINASIMU disalah satu majalah.Dengan
di bantu Hadi sahabatnya, Haqi mengitu lomba tersebut. Harap-harap cemas ia
menunggu pengumuman itu. Setiap saat ia berdoa agar puisinya menang. Hadi sobatnya
tak tinggal diam melihat sahabatnya gelisah, dia selalu memberi nasehat kepada
Haqi agar selalu optimis.
Setelah
satu bulan lamanya Haqi menunggu pengumuman lomba MENULIS PUISI DALAM IMAJINASIKU, kini terbitlah majalah yang memuat
edisi nama-nama pemenang. Dengan sabarnya Haqi menunggu Hadi kerumahnya. Tak
lama Hadi datang menghampirinya yang sedang gundah.
“Qi..Haqi kamu dimana?Aku punya kabar
bagus,” teriaknya sambil mencari dimana Haqi berada.
“Ada apa sih Had,kenapa kamu
teriak-teriak?” bunda kebingungan dengan sikap Hadi.
“Haqi dimana Bun?”
“Ada tuh di halaman belakang, emang ada
apa sih?”
Tanpa sempat menjawab pertanyaan Bunda,
Hadi pun bergegas menghampiri Haqi .Dari halaman belakang,Alvin sangat jelas
mendengar teriakan sobatnya itu.
“ Vin, akhirnya aku nemuin kamu,” dengan
nafas yang terengah-engah.
“ Tenang dulu, sabar. Hadi kamu duduk
dulu, baru nanti jelasin pelan-pelan. “
“Ya ya ya, aku bagi minum mu ya? Aku
haus habis lari-lari.”
“ Hahahaha kamu sih lari-lari kok di
rumahku.”
“Bukan.Aku tadi lari dari tempat
abang-abangnya yang jual majalah. Mungkin aku dikiranya orang gila kali.Habis ngasih
duit langsung lari terbirit-birit ke rumahmu. Demi kasih kabar bgus nih ke
kamu.Sampai aku lupa, dari tempat yang jual majalah ke rumahmu sekitar 3km.Tapi
gak apa-apalah buat bikin sobat ku ini bahagia.”
“ Hehehe makasih ya sobat ku. Terus kamu
bawa kabar bagus apa nih,buat aku?”
“ Ohh ya, hampir aku lupa. Kamu tahu
gak,puisimu itu menang juara satu lagi.Mengalahkan seribu orang yanglain.”
“ Ahh masa? Kamu pasti cuma mau
nyenengin hati aku aja kan? Lagian yang ikut lomba itu kan seluruh
Indonesia.Masa punya ku juara satu.Mustahil banget deh.”
“Yeeee di bilangin kok gak percaya,kapan
sih aku pernah bohongin kamu? Jelas-jelas disini tertulis HAQI ISKANDAR sebagai juara satu.”
“ Had, kamu serius? Alhamdulillah,
makasih ya Allah kau kabulkan doaku.”
“ Hmmt..hadiahnya nanti dikirim lewat
kantor pos. Sobat Selamat yah, puisi mu menang.Benenr kan kata ku, puisimu itu
bagus pasti menang.Hehehe…tapi jangan lupa yah traktir aku. Ya makan bakso lah
di warung depan.”
“ Hahaha…ah kamu makanan mulu di pikiran
mu.Ya kawan, makasih ya suportnya selama ini. Nanti aku traktir deh sepuas mu.”
“Sumpah? Asekkk….”
***
Saat
sedang asik mendengarkan music, tiba-tiba kepala Haqi pusing sekali. Tapi dia
tidak menhiraukannya.Dia anggap hanya sakit kepala biasa, paling karna
kecapekan. Memang sejak kecil kalau Haqi kecapekkan, dia suka pusing terkadang
sampai muntah. Tetapi, namanya juga Haqi. Dia tidak pernah menghiraukan
penyakitnya.
Namun,keadaannya semakin menurun.Dia jadi
semakin sering mengalami sakit kepala disertai mula hingga muntah.Terkadang dia
jadi susah berbicara, pendengarannya njuga mengalami gangguan. Haqi pun
akhirnya tidak tinggal diam lagi. Dia beranikan diri untuk memeriksakan
kondisinya ke dokter tanpa sepengetahuan Bundanya.
Sore
itu, Haqi nekat pergi kerumah sakit saat Bunda dan Ayahnya keluar kota.Dengan
diantar sopirnya, sampailah dia di rumah sakit. Masuklah dia ke ruangan dokter,
dengan sedikit rasa tegang di hatinya.Dokter pun memeriksa keadaan Haqi.Setelah
stengah jam menunggu, dokter pun memberitahu hasilnya.”Dok, bagaimana hasilnya?Saya
sehat-sehat saja kan?,” tanya Haqi dengan rasa penasaran.”
“Orang tuamu dimana anak muda?Saya harus
bicarakan juga tentang penyakitmu kepada mereka.”
“ Orang tua saya sedang keluar kota
dok.Mungkin minggu depan baru pulang.Memangnya saya sakit apa?Katakan pada saya
dok?”
“ Sebenarnya saya berat mengatakan ini.”
“Katakanlah dok, saya siap
mendengarnya.”
“Hmmm…kamu mengidap kanker otak stadium
akhir. Umur mu sudah tak lama lagi anak muda. Namun, saya hanya sekedar manusia
bukan tuhan. Saya memfonis umurmu sesuai ilmu kedokteran.”
“Apa kanker otak dok?,” Haqi
terkaget-kaget mendengarnya.
“ Tak usah bersedih anak muda, tidak ada
yang tak mungkin di mata Tuhan.Banyak-banyaklah berdoa.” Menepuk pundak Haqi.
Haqi
tertunduk dalam keheningan. Dia tinggalkan ruang dokter dengan perasaan
sedih.Dia tak tahu harus berbuat apa.Dia tak sanggup member tahu sang Bunda.
Haqi tak mau membuat sang Bunda bersedih. Selama ini dia sudah merepotkan sang
Bunda, dengan keadaannya.
***
Sebulan,dua bulan berlalu, Haqi
masih kekeh merahasiakan penyakitnya.Tak ada seorang pun tahu penyakitnya,
termasuk sobat karibnya Hadi. Seperti biasa ia, ia tuliskan keluh kesah tentang
penyakitnya ke dalam tulisan. Bertumpuk-tumpuk kertas di dalam laci. Bertuliskan
syair-syair puisi untuk sang Bunda, Ayah dan Hadi.
Suatu
hari,Bunda mengajaknya ke pesta pernikahan temannya. Saat pesta berlangsung,
sakit kepala Haqi kumat lagi, fatalnya dia lupa membawa obat penahan rasa sakit
dari dokter.
“
Kamu kenapa sayang?” tanya sang Bunda.Sebelum sempat menjawab pertanyaan sang
Bunda, Haqi langsung pingsan.Bunda dan semua orang di pesta yang cemas tidar
piker panjang, langsung membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya
di rumah sakit, Haqi langsung dibawa ke UGD.Lima belas menit kemudian, dokter
keluar dari ruang UGD.
“Dok,bagaimana kondisi anak saya?” tanya
sang ayah.
“Tak ada harapan lagi pak, kondisi anak
anda semakin memburuk. Sekarang Haqi koma.”
“ Koma dok? Memangnya anak saya sakit
apa? Selama ini dia sehat-sehat saja,” Tambah sang Bunda.
“ Lho, memangnya Haqi belum mengatakan
penyakitnya kepada anda? Dia mengidap kanker otak stadium akhir. Dua bulan yang
lalu, saya sebenarnya ingin membicarakan hal ini, tapi kata Haqi anda sedang di
luar kota.”
“ Astafirullah kanker otak? Cobaan apa
lagi ini ya Allah?”
“
Tabahkan hati anda. Saya sarankan, jangan terlihat sedih di depan Haqi. Dia
butuh doa dari ke dua orang tuanya.Baiklah, saya permisi dulu. Haqi sudah bisa
di jenguk.”
Mendengar
berita dari dokter, hati orang tua Haqi seakan teriris.Betapa tak teganya
mereka, melihat Haqi terbaring lemas dengan di bantu selang-selang sebagai alat
bantu pernafasan.Kedua orang tua dan Hadi sahabatnya, tak henti-henti berdoa
buat kesembuhan Haqi.
***
Tiga
hari koma di rumah sakit, keadaan Haqi semakin memburuk saja. Dokter yang
awalnya optimis Haqi akan siuman, kini angkat tangan. Dia menyarankan agar
orang tua Haqi siap menerima apapun yang terjadi.
Entah mengapa, Haqi jadi kejang-kejang. Dokter
yang sigap, langsung memeriksa kondisi Haqi. Dua puluh menit kemudian, dokter
pun keluar dari ruang rawat inap. Dengan harap-harap cemas Ayah dan Bunda
menunggu kabar dari dokter. “Maaf saya tidak bisa menyelamatkan nyawa anak
anda.Ini sudah menjadi takdir tuhan.” Mendengar kata-kata dokter, pecahlah tangis
itu. Di depannya Bunda menangis, melihat jasad sang anak terbujur kaku dengan
di tutupi sehelai kain putih.Di atasnya ada sepucuk surat.Lalu Bunda
perlahan-lahan membacanya.
Bunda ku sayang, mungkin saat
Bunda membaca surat ini aku telah pergi jauh di sisi Allah. Pergi ke surga,
tempat yang selama ini aku ingin kunjungi. Jangan bersedih Bunda. Aku tak
mau melihat Bunda menangis lagi. Jasad ku memang mati, tapi kenangan
tentang ku akan selalu berada di hati mu Bunda.Jaga kesehatan baik-baik
Bunda. Aku sayang Bunda, Ayah dan Hadi. Semoga kita bisa bertemu kembali di
surganya. Ohh ya lupa aku titip salam buat
Hadi. Dulu, sekarang dan selamanya dia akan menjadi sahabt sejatiku.
Anak cacat bukan produk gagal karna tuhan tidak menciptakan tidak pernah gagal. Anak cacat tidak butuh dikasihani, tetapi diberi kesempatan untuk menginspirasi orang lain. |
Haqi
menghembuskan nafas terakhirnya pada usia ke 17. Dia pergi dengan senyum dan
kebahagian. Banyak pelajaran yang dia berikan untuk Ayah, Bunda dan sahabatnya.
Dia memang meninggal di usia yang masih muda, namun dia mampu membuktikan
dengan kekurangannya dia dapat menorehkan prestasi.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar